Program tersebut diarahkan untuk mendorong pengelolaan air dan lahan yang inklusif serta berkelanjutan.
Safeguarding Advisor sekaligus National Child Protection Advisor PLAN International Indonesia, Sigit Wacono, menjelaskan bahwa gerakan “Kupang Berair” tidak hanya bertujuan menjaga sumber air dan tanah.
Gerakan ini juga diarahkan untuk mendukung pengendalian banjir dan longsor serta menjaga keberlanjutan sumber daya air dan lahan.
Melalui program CERAH, pengelolaan sumber daya air dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai kelompok masyarakat, termasuk perempuan, anak, kaum muda, penyandang disabilitas dan kelompok rentan.
Gereja Sudah Mulai
Praktik konservasi air melalui biopori sebelumnya juga telah dilakukan di lingkungan lembaga keagamaan.
Pendeta Margaritha Heo Uly dari GMIT Betlehem Penkase Oeleta mengatakan pihak gereja bersama jemaat telah membuat 27 biopori dari total 60 kepala keluarga.
Praktik tersebut menunjukkan bahwa konservasi air sebenarnya dapat dimulai dari lingkungan masing-masing tanpa harus menunggu program besar.
Pemkot Kupang selanjutnya akan memantau implementasi konservasi air di tingkat kecamatan dan kelurahan.
Langkah itu dilakukan untuk memastikan komitmen yang telah dibangun benar-benar diterjemahkan menjadi aksi.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












