Menurutnya, pelayanan seorang imam tidak hanya berlangsung di altar, tetapi juga melalui kehadiran nyata di tengah kehidupan masyarakat.
“Menjadi imam bukan hanya tentang berdiri di depan altar, tetapi juga tentang hadir di tengah umat. Bukan hanya mewartakan Injil melalui kata-kata yang indah, tetapi juga melalui ketulusan, kesabaran, dan perbuatan kasih,” ungkap RD Bob Muda.
Ia menjelaskan, jejak pelayanan seorang imam dapat dilihat dari kehidupan yang disentuh, hati yang dikuatkan, keluarga yang dihibur, kaum muda yang dibimbing, serta umat yang diteguhkan dalam iman.
Karena itu, perayaan 25 tahun imamat RD Adrianus Dimu menjadi momentum untuk menghargai perjalanan yang telah dilalui sekaligus memperkuat semangat pelayanan pada masa mendatang.
“Dua puluh lima tahun imamat bukanlah garis akhir sebuah perjalanan, melainkan tanda bahwa Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang juga terus menyertai. Masih ada hati yang perlu diteguhkan, jiwa yang perlu dirangkul, dan kasih Tuhan yang harus terus diwartakan,” tuturnya.
Perayaan tersebut menjadi pengingat bahwa kesetiaan tidak hanya diukur dari lamanya seseorang menjalankan tugas, tetapi juga dari ketulusan dalam memberikan diri bagi orang lain.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












