Ia mengungkapkan, saat dirinya dan Wakil Wali Kota dilantik pada Februari 2025, ruang fiskal pemerintah daerah sangat terbatas karena anggaran telah ditetapkan sebelumnya. Namun kondisi tersebut tidak menjadi penghalang untuk menghadirkan inovasi bagi masyarakat.
“Kami melakukan efisiensi. Saya dan Ibu Wakil tidak membeli mobil dinas baru. Anggaran yang ada kemudian dimanfaatkan untuk membangun kolaborasi dengan berbagai pihak seperti Bank Mandiri, Taspen, sponsor dan mitra lainnya hingga akhirnya Saboak bisa lahir,” jelasnya.
Keberhasilan program tersebut terlihat dari tingginya antusiasme masyarakat. Hingga saat ini, rata-rata transaksi ekonomi yang terjadi di Saboak mencapai sekitar Rp80 juta setiap pekan dengan total perputaran uang mencapai Rp6,3 miliar.
“Ini adalah uang yang berputar untuk masyarakat. Pemerintah Kota tidak mengambil retribusi dari lapak-lapak yang ada. Semua benar-benar untuk dan oleh masyarakat,” tegas Christian.
Tak hanya menjadi pusat ekonomi rakyat, Saboak kini juga menjelma menjadi salah satu ikon baru Kota Kupang. Karena itu, Pemerintah Kota Kupang tengah mengkaji penambahan hari pelaksanaan menjadi tiga kali dalam sepekan, yakni Jumat, Sabtu, dan Minggu.
Selain itu, pemerintah berencana menambah jumlah lapak UMKM, memperkuat pengamanan melalui penambahan personel Satpol PP, membangun pos pengamanan, serta meningkatkan fasilitas penerangan dan sarana pendukung lainnya di kawasan Taman Nostalgia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












