Guru Besar UI Bongkar Persoalan Komoditas NTT: Investasi Harus Berpihak pada Mutu dan Petani

Avatar photo
Reporter : Jhon Seo
oplus_2

Pasokan yang tidak stabil dapat menghambat pemenuhan pesanan dalam jumlah besar dan mengganggu kesinambungan operasional industri pengolahan.

Di sisi lain, penurunan produksi akibat gagal panen dapat menekan arus kas usaha serta mengurangi kemampuan pelaku bisnis memenuhi kewajiban pembiayaan.

Dalam skenario tekanan usaha yang dipaparkan, penurunan produksi atau gagal panen hingga 40 persen dapat memengaruhi kemampuan membayar pembiayaan investasi.

Baca Juga :  Di Tengah Fiskal Terbatas, Pemkab Manggarai Pinjam Rp46 Miliar dari Bank NTT

Karena itu, pengembangan industri berbasis komoditas lokal perlu disertai pengelolaan risiko produksi, kepastian pasokan, akses pembiayaan yang sesuai, dan sistem pemasaran yang berkelanjutan.

Bagi NTT, tantangan tersebut menjadi semakin penting karena peningkatan nilai tambah harus berjalan seiring dengan upaya memperkuat ekonomi petani dan menciptakan lapangan kerja yang lebih stabil.

Pada akhirnya, keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari besarnya nilai investasi, kapasitas pabrik, atau banyaknya produk yang dikirim ke luar daerah. Konsistensi mutu, keberlanjutan pesanan, dan peningkatan pendapatan masyarakat harus menjadi ukuran utama.

Baca Juga :  Bank NTT Salurkan CSR Rp200 Juta untuk Pemulihan Gempa dan Pelayanan Publik di Manggarai Barat

Dengan demikian, komoditas unggulan NTT tidak hanya mampu menembus pasar ekspor, tetapi juga memiliki daya saing untuk bertahan dalam jangka panjang dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat lokal.***

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung