Guru Besar UI Bongkar Persoalan Komoditas NTT: Investasi Harus Berpihak pada Mutu dan Petani

Avatar photo
Reporter : Jhon Seo
oplus_2

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas investasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata.

Persoalannya bukan semata-mata apakah investasi tersedia, melainkan apakah modal yang masuk benar-benar menyasar sektor produktif yang mampu memperkuat ekonomi masyarakat.

Kopi Flores hingga Rumput Laut Punya Peluang

NTT sebenarnya memiliki sejumlah contoh pengembangan komoditas yang dapat menjadi model penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.

Baca Juga :  Dirut Bank NTT: Jangan Sampai NTT Hanya Jadi Pasar, Harus Lebih Banyak Menjual

Pada komoditas kopi Flores, misalnya, ekosistem usaha dari hulu hingga hilir telah terbentuk dan mencatatkan ekspor hingga 200 ton sejak 2016.

Di Sumba Barat Daya, pengolahan mete lokal di wilayah Taliassi menjadi salah satu contoh upaya meningkatkan nilai tambah komoditas perkebunan.

Sementara itu, sektor gula di Sumba Timur menunjukkan potensi pengembangan industri pengolahan berskala besar. Investasi yang dijanjikan mencapai Rp9 triliun, dengan realisasi yang dipaparkan sebesar Rp6,5 triliun.

Baca Juga :  Di Tengah Fiskal Terbatas, Pemkab Manggarai Pinjam Rp46 Miliar dari Bank NTT

Industri tersebut dilaporkan mampu menggiling 160.000 ton tebu dan menghasilkan lebih dari 13.000 ton gula kristal pada periode 2024–2025.

Di sektor rumput laut, industri pengolahan di Kupang berdasarkan data Bank Indonesia per Agustus 2026 mampu mengolah sekitar 7,2 ton bahan baku per hari menjadi 2,25 ton produk jadi.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung