“Jangan sampai kita langsung masuk kredit, sementara masyarakat belum terbiasa dengan produk perbankan. Mereka harus memahami usaha, menabung, melakukan transaksi dan memahami produk bank,” katanya.
Menurutnya, literasi keuangan bukan hanya menjadi tanggung jawab perbankan. Pemerintah, organisasi kemasyarakatan, organisasi keagamaan, organisasi profesi hingga organisasi politik memiliki peran untuk membantu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai keuangan.
Karena itu, Bank NTT memilih menggandeng berbagai lembaga dalam melakukan sosialisasi. Pola tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan melakukan sosialisasi secara sendiri-sendiri kepada masyarakat.
“Kalau kita melibatkan lembaga atau organisasi, mereka sudah punya basis anggota dan mengenal orang-orang dalam binaannya. Kita juga dimudahkan dalam menerapkan prinsip pengenalan nasabah,” jelas Aloysius.
Ia mencontohkan, apabila satu organisasi memiliki ribuan anggota, sosialisasi dapat dilakukan secara bersama-sama sehingga informasi mengenai KUR dan produk keuangan Bank NTT bisa menjangkau lebih banyak masyarakat dalam waktu relatif singkat.
Aloysius menegaskan, target sosialisasi tidak semata-mata diukur dari berapa banyak orang yang langsung mengambil kredit. Yang lebih penting, masyarakat terlebih dahulu memahami produk keuangan dan mampu mengelola usaha secara sehat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












