Penilaian tersebut dilakukan menggunakan sejumlah indikator ekonomi, antara lain Location Quotient (LQ), dynamic Location Quotient, regional shift, serta pembobotan menggunakan metode entropi.
Melalui indikator tersebut, tim kajian membandingkan keunggulan sektoral, perkembangan ekonomi, dan daya saing masing-masing kabupaten.
Dalam analisis yang dipaparkan, sektor perdagangan Kabupaten Belu menunjukkan posisi yang lebih kuat dibandingkan dua wilayah kandidat lainnya.
Belu juga dinilai memiliki potensi lebih besar untuk berkembang sebagai pusat distribusi barang, terutama dengan keberadaan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain yang menghubungkan Indonesia dengan Timor Leste.
Kedekatan geografis dan aktivitas lintas batas menjadi modal penting bagi Belu untuk mengambil peran strategis dalam perdagangan kedua negara.
Sementara itu, Kabupaten Malaka dinilai lebih menonjol pada sektor yang berkaitan dengan basis pertanian, sedangkan TTU memiliki karakteristik ekonomi yang ditopang sektor administrasi pemerintahan dan pertanian.
Meski demikian, penentuan lokasi zona perdagangan bebas tetap membutuhkan kajian lanjutan, termasuk kesiapan infrastruktur, kebijakan lintas negara, dan dukungan terhadap pelaku usaha.
Produk Jadi Mendominasi Permintaan Timor Leste
Selain membandingkan potensi ketiga kabupaten, kajian tersebut juga menyoroti karakteristik perdagangan antara Indonesia dan Timor Leste.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












