Sementara pilar ketiga berfokus pada hilirisasi produk unggulan dan pengembangan pemasaran digital. Melalui pendampingan ini, produk lokal seperti jagung pulut, madu hutan, dan tenun ikat diarahkan agar memiliki nilai tambah melalui pengolahan, penguatan identitas merek (branding), fasilitasi sertifikasi Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT), serta pemanfaatan marketplace dan media sosial sebagai sarana pemasaran.
Pelaksanaan program menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), yakni metode penelitian dan pemberdayaan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek aktif, bukan sekadar penerima manfaat. Pemerintah desa dan pengelola BUMDes dilibatkan sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, penyediaan sumber daya hingga evaluasi program.
Melalui pendekatan partisipatif tersebut, program ini diharapkan mampu membangun rasa memiliki masyarakat terhadap BUMDes sekaligus memastikan setiap inovasi yang diperkenalkan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik sosial ekonomi Desa Anajiaka.
Adapun target yang ingin dicapai meliputi terbentuknya tata kelola BUMDes yang lebih inklusif, tersusunnya standar operasional prosedur (SOP) setiap unit usaha, berfungsinya sistem administrasi dan keuangan digital, serta berkembangnya produk unggulan desa yang memiliki nilai tambah dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.






