Selain itu, kegiatan juga menekankan pentingnya membangun komunikasi yang efektif antara penyandang disabilitas, keluarga, masyarakat, relawan, dan petugas penanggulangan bencana agar proses evakuasi dapat berjalan lebih aman dan cepat.
Salah satu penyelenggara, Maurits R.L. Sjioen, mengatakan penyandang disabilitas merupakan kelompok yang memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi saat bencana apabila kebutuhan aksesibilitas dan dukungan khusus tidak terpenuhi.
“Pengurangan risiko bencana harus dilaksanakan dengan prinsip inklusif, sehingga setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh informasi, perlindungan, dan pelayanan tanpa terkecuali,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu meningkatkan kesiapsiagaan penyandang disabilitas sekaligus menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap kelompok rentan.
“Kesiapsiagaan bukan hanya tentang menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal (Leave No One Behind) dalam setiap upaya penanggulangan bencana,” tegas Maurits.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol komitmen memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan komunitas difabel dalam membangun masyarakat Rote Ndao yang lebih tangguh menghadapi bencana.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












