Ia mempertanyakan bagaimana aktivitas yang diduga perjudian dapat berlangsung di lokasi tersebut, terlebih letaknya juga berdampingan dengan Polsek Lobalain.
“Masak orang main judi di tengah-tengah sementara dikelilingi oleh rumah ibadah dan berdampingan langsung Polsek Lobalain. Ini ada apa sebenarnya?” kesalnya.
Menurut Mariana, kondisi tersebut terasa ironis karena pembukaan pameran justru diawali dengan kegiatan keagamaan seperti KKR dan doa bersama.
“Awal pembukaan pameran selalu diawali dengan KKR dan doa bersama, tapi fakta yang tersembunyi sangat miris,” ujarnya.
Panitia dan Polisi Harus Dievaluasi
Mariana meminta panitia dan kepolisian dievaluasi secara menyeluruh.
Evaluasi, menurutnya, tidak boleh hanya melihat aspek pendapatan atau income, tetapi juga harus mencakup seluruh aktivitas yang berlangsung di lokasi pameran.
“Panitia dan kepolisian perlu dievaluasi. Bukan sekadar income, tetapi tentang semua yang terjadi di sana, termasuk judi,” katanya.
Ia meminta stand yang terbukti melakukan aktivitas perjudian segera dihentikan.
Selain itu, panitia dan aparat keamanan diminta menerapkan disiplin waktu terhadap seluruh kegiatan di lokasi pameran.
Setelah festival budaya selesai sesuai waktu yang telah disepakati, lampu-lampu di lokasi diminta dimatikan dan petugas keamanan melakukan kontrol untuk mencegah munculnya aktivitas lain yang berpotensi mengganggu keamanan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










