Daerah  

Wali Kota Kupang: Tahbisan Diakon Adalah Awal Pengabdian untuk Melayani dan Merawat Harmoni

Avatar photo
Reporter : Jhon Seo

 

NTT-Terkini.com, KUPANG – Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menegaskan bahwa tahbisan diakon bukanlah garis akhir dari perjalanan panggilan, melainkan awal dari pengabdian panjang untuk menghadirkan kasih Tuhan, memperkuat persaudaraan, dan menjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.
Pesan tersebut disampaikannya saat menghadiri Perayaan Ekaristi Tahbisan Diakon di Kapela Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui, Sabtu (30/5). Perayaan yang dipimpin Uskup Keuskupan Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR., itu berlangsung khidmat dan penuh sukacita dengan ditahbiskannya 30 frater menjadi diakon.
Turut hadir dalam perayaan tersebut Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, para imam, biarawan-biarawati, pimpinan lembaga pendidikan, keluarga para diakon, serta ribuan umat yang memadati Kapela Seminari Tinggi St. Mikhael.
Dalam sambutannya, Wali Kota Kupang menyampaikan apresiasi kepada para uskup, formator, orang tua, keluarga, dan seluruh pihak yang telah mendampingi para calon diakon hingga mencapai momentum penting dalam perjalanan panggilan mereka.
Menurutnya, tahbisan diakon merupakan buah dari proses panjang pembinaan, pendidikan, doa, dan pengorbanan yang tidak hanya dijalani oleh para calon diakon, tetapi juga oleh keluarga dan Gereja yang terus mendukung mereka.
“Saya percaya bahwa tahbisan diakon ini bukan hanya sebuah capaian pribadi, tetapi sebuah panggilan iman yang mengajak kita untuk melayani Tuhan dan sesama dengan hati yang rendah dan tulus,” ujar Christian Widodo.
Ia mengingatkan bahwa dunia saat ini menghadapi berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks, mulai dari derasnya arus informasi, polarisasi sosial, hingga melemahnya nilai-nilai kebersamaan. Karena itu, kehadiran para diakon dinilai sangat penting sebagai pembawa harapan, penanam nilai moral, dan penjaga persaudaraan di tengah masyarakat.
Wali Kota juga menegaskan bahwa Kota Kupang dibangun di atas fondasi keberagaman yang harus terus dijaga bersama.
“Di Kota Kupang, keberagaman bukan menjadi penghalang, tetapi menjadi kekuatan. Keberagaman bukan menjadi jarak pemisah, melainkan jembatan yang menyatukan. Karena itu kami membutuhkan peran gereja, para diakon, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen untuk menjaga harmoni ini,” tegasnya.
Ia mengibaratkan kehidupan masyarakat sebagai sebuah lagu yang indah. Keindahan tidak lahir karena semua nada sama, tetapi karena berbagai nada yang berbeda mampu berpadu dalam harmoni.
“Harmoni bukan berarti semua harus sama. Harmoni adalah ketika perbedaan dapat hidup berdampingan dalam keseimbangan, saling menghargai, dan saling menguatkan. Itulah wajah Kota Kupang yang harus terus kita rawat bersama,” katanya.
Christian Widodo juga mengajak para diakon untuk membangun sinergi dengan pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dalam menghadirkan pelayanan yang menyentuh kebutuhan umat dan masyarakat luas. Menurutnya, hakikat kepemimpinan, baik dalam Gereja maupun pemerintahan, terletak pada kesediaan untuk melayani.
“Menjadi diakon, menjadi pemimpin, ataupun pejabat publik bukan soal seberapa tinggi jabatan yang dimiliki, melainkan seberapa dalam kita mau terjun melayani sesama,” tandasnya.
Sementara itu, Uskup Keuskupan Weetebula, Mgr. Edmund Woga, CSsR., mengungkapkan rasa syukur atas tahbisan 30 diakon baru yang menjadi anugerah besar bagi Gereja Katolik, khususnya di Nusa Tenggara Timur.
Ia menilai banyaknya panggilan imamat dan hidup membiara di NTT merupakan berkat sekaligus tanggung jawab besar untuk melayani Gereja universal.
“Di saat banyak wilayah di dunia mengalami kekurangan panggilan, Tuhan tetap menganugerahkan banyak panggilan kepada Gereja di daerah ini. Karena itu kita harus siap untuk diutus melayani umat di mana pun dibutuhkan,” ujarnya.
Praeses Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui, Rm. Theodorus Aloysius Silab, Pr., menambahkan bahwa para diakon yang ditahbiskan dipanggil untuk menjadi wajah belas kasih Kristus di tengah dunia.
“Mereka dipilih bukan karena paling sempurna, tetapi karena belas kasih Tuhan yang terlebih dahulu memilih mereka. Tugas mereka adalah menjadi saluran kasih Allah bagi Gereja dan masyarakat,” katanya.
Perwakilan para diakon yang baru ditahbiskan juga menyampaikan rasa syukur atas rahmat yang diterima setelah melewati perjalanan panjang pembinaan dan pendidikan. Mereka berterima kasih kepada para uskup, formator, dosen, orang tua, keluarga, pemerintah, para donatur, dan seluruh umat yang telah mendukung perjalanan panggilan mereka.
Mereka pun memohon doa agar tetap setia sebagai pelayan sabda, pelayan altar, dan pelayan kasih serta mampu menghadirkan wajah Kristus dalam setiap karya pelayanan di tengah Gereja dan masyarakat.***

Baca Juga :  Wali Kota Kupang Perjuangkan Perbaikan 6 Ruas Jalan ke BPJN NTT, Dorong Penanganan Infrastruktur Prioritas Tahun 2026

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung