Ia mengapresiasi Yayasan Plan International Indonesia melalui Program CERAH yang telah memilih Kota Kupang sebagai salah satu lokasi implementasi program selama tiga tahun ke depan.
“Kepercayaan ini menjadi peluang bagi Kota Kupang untuk memperkuat tata kelola air yang lebih inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan. Yang terpenting, masyarakat tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi ikut terlibat dalam proses perencanaan, pengawasan, hingga pengambilan keputusan,” katanya.
Persoalan Air Harus Jadi Gerakan Bersama
Ignasius juga menyoroti pembentukan Forum Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu Kota Kupang Tahun 2026 sebagai wadah kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air.
Menurutnya, persoalan air tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
“Ketika sumber air rusak, semua merasakan dampaknya. Ketika kualitas air menurun, semua ikut menanggung risikonya. Sebaliknya, ketika akses air membaik, seluruh masyarakat akan menikmati manfaatnya,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh peserta workshop untuk menghasilkan langkah-langkah konkret dalam menjaga daerah resapan air, memulihkan daerah aliran sungai yang kritis, mengurangi pencemaran lingkungan, memperluas akses layanan air bersih, serta meningkatkan kesadaran masyarakat dalam penggunaan air secara hemat dan bijak.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
