“Sayangi dan lindungi diri kalian, karena dari situlah masa depan yang baik dimulai,” pesan Widya kepada para siswa—menegaskan bahwa rasa menghargai orang lain baru mungkin tumbuh ketika anak lebih dulu merasa dihargai dan aman dalam dirinya sendiri.
Kekhawatiran Legislator: Bullying Sudah Menyentuh Fisik
Alarm isu sekolah juga diangkat oleh Ketua Komisi III DPRD Kota Kupang, Neda Lalay. Menurut Neda, kasus bullying di Kota Kupang kini tidak lagi sebatas ejekan verbal, tetapi sudah saling menyakiti secara fisik dan psikis antar siswa.
“Kasus bullying di sekolah sangat mencemaskan,” kata Neda, mengingatkan bahwa keamanan anak di sekolah akan ikut menentukan kualitas generasi penerus daerah.
Ia menekankan peran guru dan orang tua sebagai dua benteng utama:
Guru harus menjadi garda terdepan pembinaan karakter di sekolah
Orang tua wajib mengisi ruang pembentukan EQ dan spiritualitas di rumah
Sekolah Harus Inklusif untuk Semua, Termasuk Gurunya
Dari sisi eksekutif pendidikan, Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Ernest Ludji, menilai sekolah wajib menjadi ruang inklusif bagi seluruh komponen sistem—murid, guru, tenaga pendidik, hingga lingkungan sekolah itu sendiri.
Ernest memperkenalkan paradigma belajar yang mulai dijalankan di sekolah Kupang:
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
