Keterbatasan ini berdampak langsung pada rendahnya daya saing tenaga kerja lokal, terutama untuk mengisi peluang kerja domestik maupun luar negeri. Menurut Maria, peluang kerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART), housekeeping, hingga pekerja kebun sawit di negara tujuan seperti Malaysia dan Hong Kong sebenarnya sangat diminati. Namun, minimnya keterampilan dan pengetahuan membuat hanya sedikit pengangguran yang mampu memenuhi standar rekrutmen.
Situasi ini memperkuat urgensi pendirian BLK Kota Kupang sebagaimana didorong oleh Wali Kota dalam beberapa kesempatan. Keberadaan BLK tidak hanya memberi akses lebih luas terhadap pelatihan kerja, tetapi juga menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi tenaga kerja lokal. Dengan pelatihan terstandar dan sertifikasi, masyarakat diharapkan dapat keluar dari ketergantungan pada lapangan kerja informal dan mampu bersaing di pasar kerja regional maupun internasional.
BLK juga diharapkan meningkatkan partisipasi warga dalam mengikuti pelatihan sehingga dapat mendorong kemandirian ekonomi keluarga. Upaya ini selaras dengan agenda besar Pemkot Kupang dalam menciptakan “Kupang SDM Unggul”—membangun generasi yang terampil, adaptif, dan kompetitif di tengah dinamika kebutuhan dunia kerja.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.










