“Kami pastikan anak difabel pun punya akses pendidikan yang adil dan inklusif. Guru juga diberi pelatihan agar mampu menggerakkan TPPK di sekolah,” kata Okto.
Langkah ini mencerminkan kebijakan yang tidak berhenti pada “menerima anak di sekolah”, tetapi menerima kebutuhan anak di sekolah—termasuk mereka yang selama ini rentan tak mendapat ruang setara.
Guru Dilatih, Orang Tua Dilibatkan, Lingkungan Ditata Ulang
Beberapa intervensi strategis yang dijalankan meliputi:
- Pelatihan guru untuk penguatan karakter dan kemampuan deteksi dini kekerasan
- Edukasi pencegahan bullying dan kekerasan seksual berbasis sekolah
- Pengelolaan lingkungan: sekolah harus bersih, aman, dan tanpa ancaman fisik maupun psikis
- Pendidikan inklusi untuk anak difabel
- Sistem pembelajaran dua arah antara guru dan murid
- Mitigasi bencana agar sekolah aman dari risiko dan siap respon darurat
Bahkan dalam konteks relasi sekolah, isu bullying juga dibaca lebih luas—tidak hanya antar siswa, tetapi juga potensi relasi toksik antara guru dan murid.
“Kami ingin meminimalisir beragam bentuk kekerasan, baik fisik maupun non-fisik. Sekolah harus aman untuk semua,” kata Okto.
Sekolah Bersih = Anak Fokus, Anak Fokus = Masa Depan Terbuka
Pemkot Kupang kini menempatkan kebersihan, kenyamanan, dan keamanan mental sebagai komponen inti, bukan pelengkap. Dengan lingkungan sekolah yang ramah, anak tidak hanya bisa datang ke sekolah, tetapi belajar di sekolah, tumbuh di sekolah, lalu menang di masa depannya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
