Daerah  

Jadi Rumah Kedua yang Aman: Kupang Dorong Sekolah Ramah Anak, Lawan Bullying dari Hulu

Avatar photo
Reporter : Tim

Pada saat yang sama, Pemkot Kupang menempatkan penguatan karakter pendidikan sebagai strategi utama memutus rantai perundungan (bullying) dan kekerasan seksual dari sumbernya. Pendekatan yang dipakai bukan reaktif, tetapi preventif—membangun budaya sekolah yang toleran, saling menghormati, dan berorientasi pada perdamaian.

Pesan Tegas di Ruang Sekolah

Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis, tampil sebagai corong kebijakan yang konsisten menyuarakan bahaya bullying di ruang publik dan sekolah. Ia menggarisbawahi bahwa perundungan bukan perilaku nakal biasa, tetapi ancaman serius bagi kesehatan mental anak dan masa depan generasi Kota Kupang.

Baca Juga :  Pemkab Rote Ndao Anggarkan Rp990 Juta untuk PJU, 55 Lampu Jalan Jadi Target 2026

“Bullying bukan hal sepele. Dampaknya bisa sangat panjang, menghancurkan semangat belajar dan kepercayaan diri siswa. Karena itu, setiap bentuk perundungan harus segera dilaporkan kepada guru atau orang tua,” ujar Serena, mempertegas sikap Pemkot.

Ia juga menyinggung data global mengenai hubungan antara bullying dan risiko kesehatan mental ekstrem, termasuk kecenderungan ide bunuh diri pada korban, sebagai alarm bahwa isu ini harus ditangani dari hulu, bukan hanya di hilir.

Baca Juga :  Membedah Arisan Berbayar Berhadiah di Expo UMKM Rote Ndao: Arisan atau Perjudian?

Ekosistem Perlindungan Anak

Pemkot, menurut Serena, terus memperluas kolaborasi pentahelix pendidikan dan perlindungan anak bersama:

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung