Indeks
Daerah  

Wawali Kupang Dorong 57 Klasis GMIT Ramah Disabilitas, Data Jemaat Jadi Sorotan

Reporter : Jhon Seo

Serena berharap pelatihan tersebut menjadi langkah konkret untuk membangun gereja yang terbuka, mudah diakses, dan mampu menjawab kebutuhan seluruh jemaat, termasuk penyandang disabilitas.

Data Jemaat Jadi Kunci Pelayanan Tepat Sasaran

Selain mendorong perubahan pola pelayanan, Serena menekankan pentingnya pemutakhiran data penyandang disabilitas di setiap klasis dan jemaat.

Menurut dia, data yang akurat akan membantu gereja dan pemerintah mengetahui kondisi jemaat, lokasi tempat tinggal, serta kebutuhan spesifik yang harus dipenuhi.

Dengan demikian, program pelayanan, bantuan sosial, dan pemberdayaan dapat dirancang secara lebih terarah dan menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan.

“Ketika gereja ramah disabilitas sudah diterapkan di masing-masing klasis, kita dapat mengetahui siapa saja jemaat penyandang disabilitas, termasuk lokasi tempat tinggal dan kebutuhan mereka. Dengan data yang akurat, ketika gereja maupun pemerintah memiliki program bantuan, kita bisa memastikan pelayanan tersebut menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan,” jelasnya.

Serena juga mengingatkan bahwa pelayanan inklusif harus memperhatikan kebutuhan yang berbeda-beda.

Penyandang disabilitas Tuli, misalnya, membutuhkan dukungan akses komunikasi, termasuk bahasa isyarat. Sementara itu, penyandang disabilitas netra dan penyandang disabilitas lainnya memerlukan lingkungan yang aksesibel serta bentuk pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Exit mobile version