Indeks
Daerah  

Pemkot Kupang All Out Dukung Pesparawi Perdana GMIT, Christian Widodo: Perbedaan Justru Melahirkan Harmoni

Reporter : Jhon Seo

“Paduan suara mengajarkan satu hal, bahwa persatuan itu tidak harus menjadi sama. Persatuan bukan menjadi sama, tetapi mampu berjalan bersama meskipun berbeda,” tegasnya.

Ia mengatakan dalam sebuah paduan suara, seseorang tidak harus selalu menjadi suara yang paling dominan.

“Ada waktunya kita mundur, kapan yang lain maju, kapan kita memberikan ruang, sehingga menjadi satu simfoni yang indah. Itulah kehidupan,” katanya.

Filosofi tersebut, lanjut Christian, sangat relevan dengan kehidupan Kota Kupang yang dihuni masyarakat dari berbagai suku, agama dan latar belakang budaya.

“Itulah Kota Kupang. Keberagaman tidak pernah menjadi penghalang. Keberagaman selalu menjadi kekuatan, tidak menjadi jarak pemisah, tetapi menjadi jembatan,” ujarnya.

Christian mengajak seluruh peserta tidak berhenti membawa pesan persaudaraan hanya di atas panggung.

Menurutnya, semangat untuk saling memberi ruang juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, tidak setiap saat seseorang harus berada di depan. Ada waktunya berbicara, tetapi ada pula waktunya mendengar. Ada waktunya tampil, tetapi ada pula waktunya memberikan kesempatan kepada orang lain.

“Di dalam persatuan, walaupun berbeda, kita pasti bisa menang. Dalam bahasa Latin dikatakan, Ubi concordia, ibi Victoria, di mana ada persatuan, di situ ada kemenangan,” pungkasnya.

Simfoni Persaudaraan Jadi Momentum Bersejarah

Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Yohanis Ena Blegur, S.Th., mengatakan Simfoni Persaudaraan merupakan momentum bersejarah karena untuk pertama kalinya pesta paduan suara digelar dalam lingkup pelayanan GMIT secara menyeluruh.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini

+ Gabung

Exit mobile version