Framework serta definisi operasional setiap indikator perlu dipahami secara seragam guna menghindari bias, tumpang tindih data, maupun perbedaan interpretasi antar sektor.
Sejumlah camat dalam diskusi menyoroti pentingnya pemanfaatan pangan lokal dan pekarangan sebagai bagian dari intervensi sensitif di tingkat wilayah. Upaya ini dinilai tidak hanya mendukung gizi keluarga, tetapi juga memperkuat kemandirian masyarakat.
Sementara itu, para operator puskesmas mengungkapkan sejumlah kendala teknis, terutama terkait perbedaan penafsiran indikator ibu hamil yang mengonsumsi makanan beragam serta balita yang menerima MP-ASI.
Ketidakseragaman pemahaman ini dinilai berpotensi menurunkan kualitas data jika tidak segera disepakati bersama.
Sebagai hasil akhir rapat, seluruh peserta sepakat untuk menuntaskan pengisian data Analisis Situasi dalam minggu berjalan. Data ditargetkan sudah lengkap dan siap digunakan paling lambat Jumat, 22 Januari 2026, sebagai pijakan utama percepatan penurunan stunting di Kota Kupang pada tahun 2026.
Dengan pembenahan data dan penyamaan persepsi lintas sektor ini, Pemkot Kupang optimistis program penanganan stunting dapat berjalan lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












