Kesadaran tersebut menjadi sumber kerendahan hati sekaligus kekuatan untuk tetap setia, termasuk ketika menghadapi berbagai tantangan dalam perjalanan pelayanan.
RD Adrianus mengungkapkan bahwa panggilannya tumbuh sejak masa kecil. Ia terinspirasi oleh sosok misionaris yang bersedia hidup dan menderita bersama umat di wilayah pelayanannya.
Ketertarikan tersebut kemudian berkembang menjadi tekad untuk menjadi imam, hingga akhirnya ia menjalani pendidikan calon imam dan menerima tahbisan.
Dalam perjalanan pelayanannya, RD Adrianus pernah bertugas di Seminari Menengah Santo Rafael Oepoi, Paroki Santo Yosef Naikoten, Paroki Santo Paulus Sikumana, dan Paroki Santa Maria Dolorosa Sikumana, sebelum melanjutkan pelayanan di Paroki Santo Gregorius Agung Oeleta.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pimpinan Keuskupan Agung Kupang, para imam, rekan sepelayanan, keluarga, pengurus gereja, donatur, dan umat yang telah mendukung perjalanan panggilan serta pelayanannya selama ini.
25 Tahun Imamat Bukan Garis Akhir
Dalam kesempatan yang sama, Pastor Paroki Santo Gregorius Agung Oeleta, RD Bob Muda, menegaskan bahwa perayaan 25 tahun imamat bukan sekadar memperingati perjalanan waktu, melainkan mensyukuri kesetiaan, doa, pengorbanan, dan kasih yang telah dibagikan kepada umat.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
