“Karnaval budaya ini membuktikan bahwa kegiatan kepramukaan tidak hanya fokus pada pembentukan karakter generasi muda, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Lebih dari sekadar parade budaya, setiap kontingen memanfaatkan momentum ini untuk menyuarakan berbagai isu strategis yang dihadapi NTT. Beragam pesan disampaikan secara kreatif melalui atribut, teatrikal, hingga miniatur yang mereka tampilkan.
Isu yang diangkat meliputi pengelolaan sampah, literasi digital, adaptasi perubahan iklim, pencegahan stunting, perlindungan anak, ketahanan pangan berbasis potensi lokal, hingga pentingnya menjaga persatuan dalam keberagaman budaya.
Melalui kampanye tersebut, Pramuka NTT menunjukkan perannya sebagai agen perubahan yang tidak hanya membangun karakter anggotanya, tetapi juga peduli terhadap persoalan sosial dan pembangunan daerah.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, menyambut hangat para peserta di Saboak Taman Nostalgia. Ia menyebut Saboak sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif Kota Kupang yang menjadi ruang bertumbuhnya pelaku UMKM sekaligus tempat berkumpulnya masyarakat.
Dalam pesannya kepada peserta, Serena berharap pengalaman selama Jambore Daerah tidak berhenti sebagai kenangan semata.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
