NTT-Terkini.com, ROTE NDAO – Terik matahari siang itu menyengat. Ribuan peserta Pawai Karnaval Paskah 2026 berjalan menyusuri jalanan, merayakan iman sekaligus memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-24 Kabupaten Rote Ndao. Di antara derap langkah, nyanyian, dan kostum warna-warni, ada satu hal sederhana yang begitu membekas: sebotol minuman dingin di tangan para peserta.
Di Pos Utomo, botol-botol itu dibagikan tanpa henti. Tangan-tangan sigap menyerahkan minuman kepada siapa saja yang lewat—anak-anak, orang tua, hingga aparat yang berjaga. Wajah lelah berubah lega. Dahaga seketika sirna.
Namun, di balik ribuan botol minuman dingin itu, ada kisah yang lebih dalam dari sekadar pelepas haus.
Adalah Endang Sidin, seorang perempuan Muslim berjilbab, yang menjadi penggerak di balik aksi berbagi tersebut. Sosoknya mungkin tak banyak berdiri di depan, tetapi perannya terasa di setiap tegukan yang menyegarkan para peserta.
Endang bukan hanya seorang pengusaha, tetapi juga wartawan media online. Di tengah kesibukannya, ia memilih untuk hadir—bukan sekadar sebagai penonton, melainkan sebagai bagian dari perayaan itu sendiri.
Baginya, berbagi tidak mengenal batas keyakinan.
“Rote Ndao ini menjunjung tinggi toleransi. Ketika Tuhan memberi saya berkat lebih, tidak ada salahnya saya ikut ambil bagian dalam kegiatan positif seperti ini,” tuturnya dengan sederhana di sela-sela kesibukan.
Kalimat itu bukan sekadar pernyataan, melainkan cerminan dari apa yang ia lakukan. Tanpa banyak perhitungan, Endang menggelontorkan dana pribadi, berkoordinasi dengan Humas Polres Rote Ndao, dan menggandeng rekan-rekan jurnalis dari Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) untuk mewujudkan aksi tersebut.
Semua berjalan cepat, bahkan terkesan spontan. Namun hasilnya nyata—ribuan peserta terbantu, suasana semakin hangat, dan rasa kebersamaan kian terasa.
Endang pun melihat nilai berbagi sebagai sesuatu yang universal. Ia menyebut, dalam Islam ada zakat, sementara dalam Kristen dikenal perpuluhan. Meski berbeda istilah, esensinya tetap sama: memberi dengan tulus kepada sesama.
Di tengah riuhnya karnaval Paskah, kehadiran seorang Muslim yang justru menjadi motor aksi sosial menjadi simbol kuat tentang Indonesia kecil bernama Rote Ndao—di mana perbedaan tidak memisahkan, melainkan memperkaya.
Apresiasi pun datang dari pihak kepolisian. Kasi Humas Polres Rote Ndao, AKP Denver Fangidae, menyampaikan terima kasih atas inisiatif tersebut. Ia menilai kolaborasi antara kepolisian dan insan pers, yang digerakkan oleh kepedulian seorang warga, menjadi contoh sinergi yang patut dijaga.
Namun bagi Endang, semua itu bukan tentang pengakuan.
Ini tentang rasa syukur.
Tentang bagaimana rezeki yang diterima tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi mengalir menjadi manfaat bagi banyak orang.
Di tengah panasnya siang dan padatnya arak-arakan, botol-botol minuman dingin itu mungkin terlihat sederhana. Tetapi di baliknya, tersimpan pesan yang jauh lebih besar: bahwa kebaikan, sekecil apa pun, mampu melintasi sekat-sekat perbedaan.
Dan di Rote Ndao hari itu, toleransi tidak hanya diucapkan—ia dibagikan, seteguk demi seteguk.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp NTT Terkini
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
